Mesjid Almuhajirin ITCI
Stasiun Tawang-Semarang
Sawah
Kurang lebih 4 hari ini saya tinggal di kampung istri di Karang Anyar-Solo. Sampai saat ini hujan baru sekali, padahal di Bandung, tiap hari sudah hujan. Alhasil, kering kerontang, tanah pecah-pecah, banyak lahan yg dianggurin. Disini sekarang sedang musim mangga.
Alhamdulillah, itu yang harusnya banyak-banyak kuucap. Betapa tidak, selama ini, saya tinggal, hidup di lingkungan yg ‘cukup’ normal. Sebagai manusia biasa, kadang malah merasa kurang atas apa yg tlah dimiliki. Mataku terbuka di sini.
Kalau diingat-ingat, daerah ini layaknya rumah2 zaman mojopahit. Atau rumah2 di film ’saur sepuh’. Bentuk rumah, mayoritas rumah jawa. Terbuat dari kayu, tanpa plafon, berlantai tanah, masak menggunakan kayu bakar. Hanya beberapa rumah saja yg berbahan beton, dan berlantai keramik.
Masuk kriteria Gakin? layik dapat BLT? Kenyataannya, banyak yg tak memiliki Jamkesmas. Padahal di rumahnya jg hidup kambing dan ayam. Menyoal masalah berlantai tanah, saya antara menganggap mereka miskin atau bisa jadi gaya hidup terlalu sederhana.
Sempat saya bertanya, ini Jawa? tahun berapa ini? Kebanyakan warga desa ini beraktifitas sebagai petani. Mereka jarang beralas kaki. Hampir tiap KK memiliki lahan pertanian yg dikelola sendiri. Satu hal yg saya anggap ganjil adalah, pola bertani yg tradisional. Sangat mengandalkan alam. Saat musim kemarau berkepanjangan seperti sekarang, lahan dianggurin. Apa tenaga penyuluh pertanian mengabaikan desa ini? Di Hutan ITCI aja para petani mulai memanfaatkan internet tuk meningkatkan produktifitas, ini di jawa lho! Mungkin itu salah satu sebab rendahya status ekonomi desa ini.
Saat ini, diperkirakan hanya kurang dari 5 orang warga desa ini mengenyam pendidikan kuliah. Anak2 muda memilih langsung bekarja daripada sekolah. Kaum laki muda banyak yg bekerja sebagai buruh kasar di Solo.
Ada hal yg menarik bagi saya. Soal kesehatan. Masyarakat sini makannya ga neko-neko. Pengolahan makanan sangat sederhana. Sayur bening, gudangan adalah menu sehari-hari. lauknya tempe tahu. Ayam merupakan menu spesial. Ikan tidak dikenal di sini. Namun, ternyata, kebanyakan penyebab kematian disini adalah usia renta dan kecelakaan. Jarang terdengar kabar sakit yg aneh2. Menarik bukan? Apa yg menurut anda patut diubah di desa ini?





Komentar terakhir